Beranda | Artikel
Ilmu Yang Murni
17 jam lalu

Ilmu Yang Murni merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 4 Sya’ban 1447 H / 23 Januari 2026 M.

Kajian Tentang Ilmu Yang Murni

Hati orang-orang yang beriman tentu merindukan suasana tersebut dan berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan tahun ini.

Meneladani Puasa Nabi di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban adalah momentum untuk mempersiapkan diri, baik dari sisi ilmu, amalan, maupun kesiapan hati. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan panduan terbaik bagi umatnya untuk mempersiapkan bekal menghadapi Ramadhan dengan memperbanyak puasa sunnah. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan kebiasaan beliau:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa (sunah) di suatu bulan daripada bulan Syakban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berpuasa hampir seluruh hari di bulan Sya’ban, kecuali hanya sedikit hari saja beliau tidak berpuasa. Hal ini memicu rasa penasaran di kalangan sahabat. Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu kemudian bertanya mengenai alasan di balik intensitas puasa tersebut. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Itulah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Padahal, bulan itu adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Rabb semesta alam. Maka, aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)

Sya’ban sebagai Bulan Para Pembaca Al-Qur’an

Selain memperbanyak puasa, para salafus saleh memiliki kebiasaan mulia lainnya di bulan Sya’ban, yaitu memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Mereka menjuluki bulan Sya’ban sebagai Syahrul Qurra’ atau bulan para pembaca Al-Qur’an. Apabila Sya’ban telah tiba, para ulama terdahulu segera membuka mushaf untuk membaca, mentadabur, dan menghayati maknanya sebagai pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Peringatan ini bertujuan agar kaum muslimin senantiasa bersemangat meneladani sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. 

Ilmu Yang Murni

Pembahasan mengenai safa’ul ilmi atau kemurnian ilmu memiliki korelasi yang sangat kuat dengan upaya penyucian hati (amalul qulub). Tanpa kemurnian ilmu, mustahil bagi seseorang untuk mensucikan hati dan jiwanya dengan benar. Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menyebut kedudukan ini sebagai kedudukan kemurnian dan kesucian.

Beliau menukil perkataan Al-Imam Al-Junaid Rahimahullah, seorang ulama salaf yang dikenal ahli ibadah dan zuhud, namun kezuhudannya dibangun di atas fondasi ilmu yang kokoh. Al-Imam Al-Junaid rahimahullah sering menyatakan:

“Ilmu kami ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Barangsiapa yang tidak menghafal Al-Qur’an, tidak menulis hadits, dan tidak memperdalam pemahaman agama, maka ia tidak pantas untuk diikuti.” (Sebagaimana dinukil dalam Madarijus Salikin)

Barangsiapa yang ingin menjalankan syariat Islam, melaksanakan perintah Allah, serta meninggalkan larangan-Nya, harus menjadikan Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai landasan utama. Seorang yang beramal tanpa dilandasi ilmu yang benar, atau tidak memiliki kepedulian terhadap Al-Qur’an dan hadits, niscaya akan tersesat dan menyimpang. Oleh karena itu, orang yang demikian tidak pantas dijadikan sebagai panutan dalam urusan agama.

Ilmu yang benar inilah yang harus dipelajari dengan bersungguh-sungguh agar aqidah, ibadah, perilaku, serta akhlak kita menjadi baik. Semangat beribadah tanpa modal ilmu hanya akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan yang bertentangan dengan syariat.

Karakteristik Ilmu yang Murni

Ilmu yang murni adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kenabian yang diutus-Nya. Ilmu ini akan senantiasa membimbing pemiliknya untuk tetap berada di atas jalan penghambaan (ubudiyah).

Modal utama bagi siapa saja yang ingin menghambakan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah ilmu yang bersumber dari wahyu. Al-Ilmus Safi (العِلْمُ الصَّافِي) atau ilmu yang murni akan terus memperbaiki, menggembleng, dan menuntun pemiliknya agar selalu konsisten di atas Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Inilah ilmu yang seharusnya dipelajari karena ia mampu memperbaiki hati, memperelok akhlak, serta menghiasi perilaku dan sikap dalam berinteraksi dengan sesama. Ilmu yang murni tidak hanya sekedar wawasan, tetapi menjadi cahaya yang menuntun jiwa menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hakikat dari ilmu yang bersumber dari wahyu dan kenabian adalah التَّأَدُّبُ بِأَدَبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَاطِنًا وَظَاهِرًا, yaitu senantiasa mengikuti adab serta akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik secara lahir maupun batin. Hal ini mencakup dua perkara utama.

  • Pertama, berperilaku dan beretika sesuai dengan tuntunan beliau.
  • Kedua, menjadikan beliau sebagai hakim yang memutuskan dan menentukan segala perkara dalam kehidupan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ilmu yang murni akan menuntun seseorang untuk selalu berada di tempat yang diposisikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta berjalan ke mana pun beliau mengarahkan. Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba harus menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai satu-satunya syekh, guru, imam, panutan, dan hakim bagi dirinya.

Dalam seluruh keadaan, seorang muslim berkewajiban melaksanakan apa yang diperintahkan beliau dan menjauhi apa yang dilarang tanpa menyelisihinya sedikit pun. Inilah hakikat dari mempelajari ilmu yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Seseorang yang memiliki semangat ibadah yang kuat harus menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai satu-satunya panduan dalam melaksanakan ubudiyah tersebut. 

Kesimpulan dari kedudukan ini adalah menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai mualim (pengajar), murabbi (pendidik), dan muadib (penanam adab). Beliaulah satu-satunya sosok yang wajib diikuti secara mutlak. Adapun selain beliau, diharamkan bagi seorang muslim untuk memiliki sifat fanatik. Tidak ada kewajiban untuk mengikuti pendapat manusia, kecuali jika pendapat tersebut sejalan dengan Al-Qur’an dan hadits.

Status Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah satu-satunya perantara bagi manusia untuk memahami syariat Islam. Barang siapa yang tidak menjadikan beliau sebagai guru dan pendidik dalam memahami agama ini, maka ia akan terjatuh ke dalam kesesatan dan kesengsaraan.

Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa tidak ada perantara antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali dalam hal tabligh atau penyampaian risalah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak boleh dijadikan perantara dalam hak beribadah kepada Allah, namun beliau adalah satu-satunya perantara dalam memahami syariat dan menuntut ilmu agama.

Dalam urusan ubudiyah atau penghambaan, seorang muslim harus menggugurkan segala bentuk perantara. Segala bentuk permohonan, doa, dan harapan harus ditujukan langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa tawasul kepada selain-Nya. Sebaliknya, dalam hal menerima perintah, menjauhi larangan, dan memahami wahyu, perantara utama yang harus diikuti adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dua Kemurnian sebagai Hakikat Syahadat

Kemurnian ilmu yang benar mencakup dua perkara pokok yang merupakan hakikat dari kalimat syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammadar Rasulullah.

  1. Kemurnian Tauhid (Laa ilaaha illallah): Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi. Hakikat keikhlasan adalah ketika seseorang bermunajat dan berdoa langsung kepada Allah tanpa melalui perantara malaikat, nabi, apalagi makhluk lainnya.
  2. Kemurnian Ittiba’ (Muhammadar Rasulullah): Menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai satu-satunya guru, ustadz, muallim, dan pendidik yang wajib diikuti secara mutlak. Beliaulah penunjuk jalan yang ditaati karena otoritas kenabiannya.

Selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, siapa pun orangnya dan setinggi apa pun ilmunya, ketaatan kepadanya bersifat tidak mutlak. Ketaatan kepada seorang guru atau kyai hanya berlaku selama perintah mereka sejalan dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketaatan tersebut bersifat mengikuti (taban), bukan ketaatan yang berdiri sendiri.

Di zaman sekarang, banyak dai dan mualim yang menjadi wasilah bagi seseorang untuk mengenal sunnah atau berhijrah. Meskipun mereka adalah guru yang berjasa, seorang muslim tidak diperbolehkan memiliki sikap fanatik atau melakukan taklid buta kepada mereka. Ketaatan kepada guru didasarkan pada kebenaran yang disampaikan; jika perkataan mereka bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits, maka perkataan tersebut tidak boleh diikuti.

Fenomena fanatisme kelompok atau pengkultusan tokoh tertentu yang terkadang dikemas dalam kajian Islam merupakan penyimpangan dari prinsip ilmu as-safi (ilmu yang murni). Sikap tersebut bertentangan dengan prinsip loyalitas kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencederai makna syahadat.

Meningkatnya semangat kembali kepada agama di kalangan generasi muda adalah nikmat yang wajib disyukuri. Namun, semangat tersebut harus dijaga agar tidak terjebak dalam komunitas yang menanamkan nilai-nilai fanatisme kelompok. Substansi ajaran harus selalu sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, bukan sekadar melihat penampilan luar atau retorika semata.

Setiap muslim harus meninggalkan fanatisme golongan dan taklid buta. Semangat utama dalam belajar agama adalah untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah satu-satunya suri teladan yang lengkap, baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun akhlak mulia. 

Seorang ustadz, syekh, maupun guru di berbagai lembaga pendidikan hanyalah perantara untuk mengenal kebenaran, bukan standar kebenaran itu sendiri. Tidak ada manusia yang maksum (terhindar dari kesalahan) selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, loyalitas dan kepatuhan harus didasarkan pada kebenaran yang mereka sampaikan dari Al-Qur’an dan hadits, bukan karena fanatisme kepribadian.

Hakikat Hijrah dan Keistimewaan Jalan Sunnah

Semangat hijrah yang sesungguhnya harus ditanamkan dalam dua prinsip utama. Pertama, hijrah kepada Allah yang disimpulkan dalam satu kalimat, yaitu ikhlas dalam beribadah. Kedua, hijrah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disimpulkan dalam satu kalimat, yaitu al-ittiba’ (mengikuti tuntunan beliau).

Perlu disadari bahwa seluruh jalan menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, rahmat-Nya, dan surga-Nya tertutup, kecuali melalui satu jalan, yakni jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seseorang tidak boleh membiarkan dirinya berlelah-lelah dalam melakukan ibadah yang tidak sesuai dengan sunnah, karena hal itu hanya akan membuang tenaga dan harta tanpa nilai di hadapan Allah. 

Istiqamah di Tengah Rintangan

Meniti jalan kebenaran memang penuh dengan hambatan, baik berupa syahwat maupun syubhat. Namun, seseorang yang berjalan perlahan di atas jalan yang benar akan jauh lebih baik daripada seseorang yang berlari cepat namun berada di jalan yang menyimpang. Pengikut rasul tetap memiliki azam (tekad) yang kuat meskipun menghadapi berbagai celaan, tuduhan, dan cibiran.

Rasa lelah dalam mengikuti sunnah akan membuahkan kemanisan di akhir perjalanan. Ilmu yang murni (safa’ul ilmi) berperan sebagai penunjuk arah yang membangkitkan semangat dan memperbaiki niat. Dengan modal ilmu yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan hadits, seorang hamba akan memiliki himmah aliyah (semangat yang tinggi) untuk terus melangkah menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keyakinan.

Semangat atau himmah tertinggi adalah tekad yang senantiasa bertautan dengan kebenaran, baik dalam mencarinya (thaban) maupun menginginkannya (qasdan). Hal ini mencakup keinginan yang tulus serta usaha nyata untuk meraih kebenaran tersebut, kemudian menyampaikannya kepada umat manusia melalui dakwah dan nasehat. Inilah himmah para nabi dan para pengikutnya yang memiliki niat baik serta semangat tinggi untuk mengenal, memperjuangkan, dan mengajak manusia kepada jalan yang lurus.

Tiga Pilar Kesatuan dalam Himmah

Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa himmah yang kuat adalah yang terkonsentrasi dan tidak terpecah-belah tujuannya. Himmah yang tinggi harus dibangun di atas tiga landasan utama:

  1. Satu dalam Tujuan (Ikhlas): Tujuan akhir hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keikhlasan akan melahirkan kesatuan tujuan sehingga hati tidak terbagi kepada selain-Nya.
  2. Satu dalam Kesungguhan (As-Sidq): Kejujuran dalam bertekad. Seseorang mungkin saja ikhlas, namun jika tidak jujur dalam usahanya, maka semangatnya akan melemah. Kesungguhan inilah yang mendorong pencarian terhadap hal-hal yang mulia.
  3. Satu dalam Jalan (Dalil): Hanya mengikuti jalan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui dalil Al-Qur’an dan Sunnah, bukan jalan yang ditentukan oleh selera manusia.

Ketiga landasan ini Ikhlas, As-Sidq, dan Dalil merupakan pilar utama yang membentuk pribadi muslim yang kokoh.

Meneladani Himmah Para Sahabat

Pelajaran berharga mengenai himmah yang tinggi dapat diambil dari kisah Rabiah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu. Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Mintalah kepadaku,” beliau tidak meminta urusan duniawi. Rabiah menjawab:

أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ

“Aku memohon kepadamu agar aku dapat menemanimu di surga.” (HR. Muslim)

Setiap muslim diharapkan memiliki kesatuan dalam tujuan (Ikhlas kepada Allah), kesatuan dalam keinginan (sungguh-sungguh dalam mencari), dan kesatuan dalam jalan (mengikuti dalil Al-Qur’an dan Sunnah). Dengan modal ilmu yang sahih, semangat tersebut akan membimbing hamba untuk meraih keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dan mencapai tujuan mulia di surga kelak.

Download MP3 Kajian Ilmu Yang Murni


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56009-ilmu-yang-murni/